Tampilkan postingan dengan label TIMNAS PSSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TIMNAS PSSI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Desember 2010

Lain koki lain racikan,lain pelatih lain polanya.........



Selama enam tahun terakhir, Tim Merah-Putih mengusung patron permainan berbeda dibawah empat pelatih: Peter White, Ivan Kolev, Benny Dollo, dan Alfred Riedl.

Pada era White di ajang Piala AFF 2004, timnas tampil dengan pola dasar 4-5-1. White yang berasal dari Inggris, amat suka patron permainan direct ball dengan mengandalkan bola-bola lambung atau tusukan dari sektor sayap.

Empat pemain sayap, Ortizan Solossa, Ismed Sofyan, Elie Aiboy, dan Boaz Solossa, berperan amat besar. Mereka silih berganti melakukan akselerasi ke jantung pertahanan lawan. Striker Ilham Jayakusuma menjadi target man di lini depan. Hasil racikan White lumayan. Timnas sukses menembus partai final sebelum akhirnya diempaskan Singapura.

Inilah skema andalan Peter White di Piala AFF 2004:
Skema 4-5-1: Hendro Kartiko, Ismed Sofyan, Charis Yulianto, Jack Komboy, Ortizan Solossa, Elie Aiboy, Syamsul Chairuddin, Lessy, Ponaryo Astaman, Boaz Solossa, Ilham Jayakusuma.



Strategi baku yang diterapkan White direvolusi Ivan Kolev pada Piala Asia 2007. Pelatih asal Bulgaria tersebut mengusung pola ofensif yang tengah menjadi tren: 4-3-3. Trio penyerang Budi Sudarsono, Bambang Pamungkas, Elie Aiboy menjadi andalan utama.

Kolev memberi kebebasan kepada sejumlah pemain yang punya skill individual untuk melakukan akselerasi dan mengobrak-abrik pertahanan lawan. Pola permainan yang diandalkan Kolev lumayan sukses saat menghadapi dua negara kuat Asia, Korea Selatan (0-1) dan Arab Saudi (1-2), yang berada satu grup dengan Indonesia di Piala Asia 2007 di Jakarta.

Inilah skema andalan Ivan Kolev di Piala Asia 2007:
Skema 4-3-3: Jendri Pitoy, Ricardo Salampessy, Maman Abdulrahamn, Charis yulianto, M.Ridwan, Eka Ramdani, Firman Utina, Ponaryo Astaman, Elie Aiboy, Bambang Pamungkas, Budi Sudarsono.



Gaya bermain Kolev dipertahankan penerusnya, Benny Dollo. Hanya, pelatih asal Manado ini sedikit memodifikasi formasi 4-3-3 direvolusi menjadi 4-2-3-1.

Alasan utama pelatih yang akrab disapa Bendol tersebut adalah untuk menyeimbangkan antara serangan dan pertahanan.

Kehadiran dua pemain jangkar, Ponaryo Astaman-Hariono diharapkan melapis lini pertahanan kala melakoni kualifikasi Piala Asia 2011 melawan tim-tim kuat layaknya Oman dan Australia. Taktik Bendol efektif, walau akhirnya gagal lolos ke putaran final Piala Asia 2011, Indonesia tidak pernah menderita kekalahan telak.

Inilah skema andalan Benny Dollo di Pra Piala Asia 2011:
Skema 4-2-3-1: Markus, Ismed, Nova, Charis, Isnan Ali, Hariono, Ponaryo, Ilham, Firman Utina, Boaz Solossa, Bambang Pamungkas.



Perubahan cukup radikal dilakukan Alfred Riedl, yang meneruskan tongkat estafet dari Bendol. Arsitek asal Austria ini menerapkan skema tradisional 4-4-2. Prinsip keseimbangan permainan menjadi fokusnya. Timnas bermain dengan bola-bola pendek, sentuhan kaki ke kaki di sepanjang Piala AFF 2010.

Yang menarik, Alfred juga banyak memasukkan pemain muda dalam skuadnya. Kita tunggu, apakah racikan Alfred ini akan terbukti lebih sukses dibandingkan dengan tiga pendahulunya.

Inilah skema andalan Alfred Riedl di Piala AFF 2010:
Skema 4-4-2: Markus, Zulkifli, Hamka Hamza, Maman, Nasuha, M.Ridwan, Firman Utina, Bustomi, Oktovianus, Cristian Gonzales, Irfan Bachdim.

Rabu, 15 Desember 2010

Si Boci

Boaz Solossa Masih Jadi Idola

Boaz dan Okto memiliki kelebihan masing-masing

Boaz Solossa - Indonesia (GOAL.com / Rachmad Sentosa)
Boaz Solossa namanya seolah-olah hilang dan kalah populer dibanding Okto Maniani yang menunjukan kepiawaian di atas rata-rata dalam mengolah si kulit bundar. Permainan pemain mungil ini juga tidak egois dan selalu mau memberikan umpan-umpan matang. Bahkan Boaz seakan-akan sudah dilupakan dan dianggap masa lalu sepakbola di Indonesia.

Oktovianus Maniani memang bermain gemilang bersama timnas dan juga tampil apik membela Sriwijaya FC. Namun hampir sebagian besar pemain muda berbakat di Papua lebih memilih Boaz Solossa menjadi idola mereka.

“Memang Okto tamoil gemilang tapi saya lebih meyukai Boaz karena memiliki skill individu yang nyaris sempurna dan peluang sekecil apapun pasti akan membuah sebuah gol,” tutur Herman Ohee siswa Akademi Sepakbola Emsyk Jayapura kepada GOAL.com Indonesia, Rabu (15/12).

Ditambahkannya Boaz sudah mencetak banyak gol di Superliga Indonesia (ISL) dan pernah menjadi pemain terbaik, sedangkan Okto masih butuh banyak jam terbang.

“Tapi saya yakin ke depan Okto akan mampu menyamai Boaz Solossa,” tambah Herman Ohee.

Hal senada juga dikatakan Kanzai pemain u-12 penyerang dari Sekolah Sepak Bola Numbay Star di Jayapura juga lebih mengidolakan Boaz ketimbang Okto Maniani.

“Saya melihat kedua pemain ini sama bagusnya tapi Boaz memiliki skill yang lebih karena postur tubuh yang tinggi dan mampu memanfaatkan setiap peluang sekecil apapun,” tegas Kanzai.

Ferdinando Fairyo, bekas pelatih Boaz maupun Okto, mengatakan kedua pemain ini memiliki skill dan karakter yang berbeda sesuai talenta masing-masing.

“Namun satu hal yang dimiliki keduanya adalah tidak pernah merasa terbeban saat menghadapi turnamen penting sebesar Piala AFF. Saya yakin Okto akan memberikan semua kelebihannya demi kemenangan timnas,” ujar Fairyo mantan pelatih Okto di Persipura u-18 dan u-21 seraya menambahkan Okto maupun Boaz akan selalu berusaha untuk mencetak goal dan juga memberikan asist bagi teman-temannya yang mempunyai peluang lebih besar mencetak gol. (gk-34) 

Sabtu, 04 Desember 2010

TIMNAS INDONESIA BANTAI LAOS

Tim nasional Indonesia memastikan melaju ke babak semifinal Piala AFF 2010 setelah menggulung Laos 6-0 di laga kedua. Kemenangan ini membuat Merah Putih tampil sebagai juara grup dan akan menantang runner up Grup B.

Meski masih menyisakan satu laga kontra Thailand, poin sempurna enam dari dua laga yang telah dilakoni membuat tim besutan Alfred Riedl dipastikan tampil sebagai juara Grup A. Sedangkan satu jatah lagi akan diperebutkan Laos, Malaysia dan Thailand.

Bertanding dihadapan pendukungnya di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Sabtu 4 Desember 2010, Merah Putih langsung tampil agresif. Bahkan belum genap 10 menit, Mohammad Ridwan tercatat dua kali mengancam gawang Laos. Sayang tak satupun berbuah gol.

Serangan bergelombang Merah Putih hampir ternoda pada menit 10. Tendangan jarak jauh gelandang Kaysone Soukhavong hampir menjebol gawang Indonesia yang dikawal Markus Horison. Beruntung, bola hanya mampu membentur mistar gawang.

Pada menit 26, stadion bergemuruh setelah wasit Daud Abbas menunjuk titik putih setelah bek Laos Saynakhonevieng Phommpanya mengganjal Christian Gonzales di kotak penalti. Firman Utina yang maju sebagai algojo sukses mengelabui kiper Sengphachan Bounthisanh. Indonesia sementara memimpin 1-0 atas Laos.

Indonesia berhasil menggandakan keunggulan di menit 33 lewat aksi M Ridwan. Berawal dari blunder pertahanan Laos, Ridwan berhasil mencuri bola dan merangsek ke kotak penalti Laos.

Ridwan sempat kehilangan keseimbangan, namun sempat menyepak bola yang membentur bek Laos dan bola meluncur ke gawang sendiri. Skor 2-0 buat keunggulan Indonesia ini bertahan hingga turun minum.

Memasuki babak kedua, pasukan Garuda tak mengendurkan serangan. Bahkan Firman Utina berhasil mencetak gol kedua di menit 50. Gelandang pengatur serangan Indonesia berhasil melepaskan tembakan menyusur ke sisi kanan gawang Laos yang gagal dihadang Sengphachan Bounthisanh. Indonesia unggul 3-0.

Pada menit 62, giliran Irfan Bachdim yang melahirkan petaka bagi Laos. Penyerang naturalisasi ini berhasil memanfaatkan umpan Christian Gonzales sebelum akhirnya mampu merubah kedudukan menjadi 4-0 buat keunggulan Indonesia.

Arif Suyono yang datang sebagai pemain pengganti kembali membuktikan kelasnya sebagai pemain supersub. Pada menit 76, Arif berhasil menyambar bola muntah hasil tembakan Hamka Hamzah. 5-0 buat keunggulan Merah Putih.

Dan pesta gol Indonesia ditutup dengan gol winger lincah Oktovianus Maniani pada menit 80. Putra Papua ini berhasil memanfaatkan umpan Bambang Pamungkas sebelum akhirnya menjebol gawang Laos.

Indonesia terus memburu gol. Namun hingga pertandingan usai skor 6-0 buat keunggulan Merah Putih tak berubah. Thailand akan menjadi ujian terakhir Indonesia di penyisihan grup pada Selasa 7 Desember 2010 mendatang.

Susunan Pemain
Indonesia: Markus Harison; Mohammad Nasuha, Zulkifli Syukur (Beny Wahyudi, 74'), Maman Abdurahman, Hamka Hamzah; Oktovianus Maniani, Firman Utina; Ahmad Bustomi, Muhamad Ridwan (Arif Suyono, 70') ; Cristian Gonzales (Bambang Pamungkas, 67'), Irfan Bachdim

Laos: Sengphachan Bounthisanh; Saynakhonevieng Phommpanya, Kitsada, Ketsada Souksavanh, Khamla Pinkeo (Soukhaphone, 54'); Lamnao Singto, Keoviengphet Lithideth, Kaysone Soukhavong, Konekham Inthammavong; Soukaphone Vongchiengkham (Kovanh, 54'), Khampheng Sayavutthi (Visay, 64')

Jumat, 03 Desember 2010

van beukering dikontrak feyenord....PSSI bagaimana.....???

Jhon van Beukering, pemain Belanda keturunan Indonesia, akhirnya memiliki klub setelah dibeli oleh Feyenoord, Jumat 3 Desember 2010. Pemain yang sempat ingin dinaturalisasi oleh PSSI itu dikontrak hingga akhir musim 2010-11.

Van Beukering dibeli oleh Feyenoord untuk memenuhi skuad yang tengah kehilangan strikernya, Sekou Cisse dan Jon Dahl Tomasson karena cedera. Sedangkan striker Fedor Smolov asal Rusia dianggap belum memberi penampilan terbaiknya. Van Beukering kini sudah masuk dalam skuad Feyenoord untuk menghadapi Willem II di lanjutan Liga Belanda akhir pekan ini.

Van Beukering merupakan salah satu pemain asing yang tadinya akan dinaturalisasi untuk memperkuat timnas Indonesia. Peluang itu disambut Van Beukering karena almarhum kakeknya mendambakannya untuk mengenakan kostum Merah Putih.

"Saya ingin mewujudkan impian kakek saya. Dia dari Jakarta dan memimpikan saya bisa menjadi pemain Indonesia," kata Van Beukering beberapa waktu lalu.

Van Beukering akhirnya dipanggil tim Merah Putih ketika akan menghadapi Uruguay di pertandingan persahabatan Oktober silam. Namun karena terantuk peraturan FIFA, pemain berusia 27 tahun ini akhirnya gagal dimainkan.

Saat itu dia dipanggil bersama dengan tiga pemain lain yang juga memiliki darah Indonesia, yakni Sergio van Dijk (striker), Rafael Guilermo Eduardo Maitimo (gelandang serang) dan Tobias Waisapy (bek sayap).